Kerang Hijau (Mytilus viridis)
Kerang hijau termasuk moluska yang
mempunyai cangkang yang simetris. Panjang cangkangnya lebih dari dua kali
lebarnya, mempunyai insang yang berlapis-lapis dan mempunyai cilia. Hidup
menempel pada benda-benda keras dengan bantuan benang byssus yang dihasilkan
oleh kelenjar kaki (Asikin,1982).
Kerang hijau merupakan hasil laut segar
yang dikonsumsi luas oleh masyarakat. Hewan ini banyak dimanfaatkan sebagai
salah satu sumber protein hewani. Kerang hijau mempunyai nama lokal yang
berbeda disetiap tempat, seperti kijing (Jakarta), kedaung (Banten), dan kemudi
kapal (Riau). Di negara-negara Asia Tenggara, kerang hijau dikenal dengan
sebutan siput sudu (Malaysia), chaff luan (Singapura), to hong (Philipina) dan
hai mong poo (Thailand) (kastoro,1981).
Habitat kerang hijau adalah perairan
estauri yang subur dengan kedalaman perairan sekitar 20 meter, suhu berkisar
antara 260 – 320C, dan salinitas antara 27-35 per mil (Hartanti, 1998). Kerang hijau
hidup subur di Indonesia pada muara-muara sungai dan hutan bakau, dengan
kondisi lingkungan yang dasar perairannya berlumpur campur pasir, cahaya dan
pergerakan air cukup, dengan kadar garam tidak terlalu tinggi (Kastoro, 1981)
Klasifikasi kerang hijau menurut asikin adalah sebagai berikut:
Phylum :
Molusca
Kelas :
Pelecypoda
Ordo :
Mytilacea
Famili :
Mytilidae
Genus :
Mytilus
Spesies :
Mytilus viridis
Budidaya kerang hijau sudah dikembangkan
di negara tetangga, Malaysia, Singapura dan Philipina. Di Singapura usaha
tersebut dengan metode rakit tanam (Cheong dan Loy, 1981), dan di Philipina
dengan metode bambu tancap (Tortell dan Yop, 1976).
Di
Indonesia usaha budidaya kerang hijau secara serius baru dimulai tahun 1979.
Menurut Kastoro (1981) metode yang dipergunakan dalam budidaya kerang hijau
dapat dengan metode tali gantung, rakit tancap, dan bambu tancap.
Dalam pertumbuhannya kerang hijau
dapat mengakumulasi logam berat dalam tubuhnya jika hidup pada perairan yang
terkontaminasi logam berat seperti timbal atau timah hitam.
Usaha budidaya kerang hijau dengan metode
rakit tanam, bambu tancap dan tali gantung telah dicoba oleh Lembaga Oseanologi
Nasional bekerjasama dengan PT.Gelanggang Jaya Ancol Jakarta di perairan pantai
Ancol, dari percobaan tersebut diketahui bahwa kecepatan pertumbuhan rata-rata
kerang hijau l cm/6bulan, dengan produksi sekitar 1l ton per hektar (Kastoro,
1981). Akan tetapi, kultur yang dilakukan oleh Balai Penelitian Perikanan Laut
Jakarta di perairan Banten dengan menggunakan metode tali gantung, ternyata
produksi kerang hijau dapat mencapai 500 ton per hektar (unar et.al,1982).
Sanitasi lingkungan sangat berpengaruh
terhadap sanitasi kerang hijau. Untuk mendapatkan kerang hijau yang bebas dari
mikroorganisme yang tidak diinginkan dapat dilakukan dengan cara menempatkannya
dalam air bersih yang mengalir selama beberapa jam. Hasil penelitjan
menunjukkan kerang hijau mampu bertahan selama 8 hari dalam air bersih yang
selalu diganti, meskipun tanpa diberi makan. (Thayib et al, 1979).
Kerang dari jenis Mytilus ini sering
disebut highly specialized filter feeder
yang sering digunakan sebagai bio indikator pencemaran perairan karena
organisme ini bersifat menetap, penyebarannya luas, masih mampu hidup di daerah
tercemar, dominan di laut dangkal, dapat mengakumulasikan logam berat dari
perairan dengan kaktor konsentrasi sebesar 105 (Philips, 1980). Makanan kerang
hijau terdiri dari jasad jasad renik terutama plankton nabati dan
partikel-partikel hewani (Asikin, 1982).
Rajungan Octonus Sp, Monocantus
Sp dan bintang laut merupakan predator kerang hijau yang paling aktif di alam.
Meskipun percobaan di laboratorimn menunjukkan bahwa ikan juga memangsa kerang
tersebut, tetapi di alam belum diketahui apakah ia memakan kerang ini (Tan,
1973).
Kerang hijau, banyak dihasilkan di daerah sekitar teluk Jakarta, seperti
Muara Karang dan Cilincing. Kerang hijau merupakan jenis kerang yang banyak
dicari orang, karena hasil laut ini kerap dijadikan kudapan kuliner yang
menggoda selera. Namun, untuk ekspor, Indonesia masih kalah dengan
negara-negara lain. Pasalnya di dalam kerang kita terdapat indikasi racun logam
berat.
Kerang hijau sistem anatomi tubuhnya terkenal kuat dalam
menyaring aneka jenis logam berat seperti : Pb (timbal), Cadmium (Cd) maupun
tembaga (Cu). Sementara, jenis kerang lain, yakni kerang darah lebih hebat
lagi. Karena hidup di dalam lumpur, ia mampu memakan sedimen. Logam-logam berat
ini bila masuk ke dalam tubuh bisa berbahaya bagi kesehatan. Ia akan terendap dan
akan menjadi racun didalam tubuh.
Berdasarkan penelitian Zainal Arifin, Phd, alumnus doktor
dari Canada bidang Ekotoksikologi, racun-racun ini dapat membuat sistem syaraf
lemah, IQ turun dan berpengaruh ke tulang. Yang berbahaya, bila racun tadi
terserap oleh tulang dan mengendap didalamnya. Hal ini terjadi akibat salah
tangkap, Cadmium yang masuk bisa dianggap kalsium dan diserap tulang.





