Pengungkapan masalah penggunaan dan toksisitas obat pada kondisi patologi selektif :
Pada Anomali Genetik
Pada patologi system biotrars formasi obat
P Patologi system ekstresi
A Patologi batu ginjal
B Keadaan gizi buruk atau mal gizi
A Kondisi gangguan sal. nafas : asma dan infeksi
Kondisi lain
Gangguan darah : anemia, leukemia, koagulasi yang menginduksi dan m’inhibisi
Pada patologi system kardiosvaskular
Kehamilan, menyusui
Pediatri
Goriatri
Gangguan hormonal (Hormon endokrin, paratiroid, tirok, adreal, pancreas, hormone kelamin.
Overview
Anomali Genetik
Terkait pada kemampuan tubuh membentuk hormone/enzim
Enzim sangat bervariasi Pada Sal. cerna
Mikrosomal hati
Kelebihan enzim tidak selalu baik, tapi bila enzim b Fungsi tubuh ber
Pada kekurangan enzim α – flavulinat à pytet porpurio
Xantin oksidasi naik à terbentuk Xantin dan asam urat
Biotransformasi dan hati
Metabolisme di hati
Hati mempunyai fungsi tertentu fatal bagi seluruh tubuh
System ekresi
Paling besar yang berperan adalah ginjal, feses
Batu ginjal
Dapat terbentuk :
- Ca Oxalat
- As. Urat
- Lesin, lisin, batu-batu yang dapat mengendap
- zat-zat yang larut diginjal yang melapisi batu
Kelainan gizi
Mempunyai tanda-tanda khusus seperti marasmus, penanganan dengan nutrisi parental
Gangguan nafas
Pada kondisi asma dapat terjadi serangan disebabkan oleh penggunaan obat/kondisi-kondisi patofisiologi morphin pada asma à tidak bisa bernafas
Infeksi
Untuk pernafasan : enemonia, pnemonifis, TBC, Bronchopnemonia, ISPA, ISPB.
Pada kondisi infeksi tidak boleh digunakan obat-obat imunodoprese karena dapat menurunkan kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus/bakteri.
Es obat à Anemia aplastik
- anemia megaloblostik : defisiensi asam folat, vit B12
- Permisiosa : B12
- Thalasemia : Anomia karena selain genetic
- Sel Sabit : Habisnya karena kelainan genetic
- Leukimia
Limfatik
Myeolitik (sumsum tulang)
Koagulopati : gangguan pada pembekuan darah.
Ada 7 cara pembekuan darah à Hertindal
Anomali Genetik
Faktor Genetik
Dapat berpengaruh pada modifikasi, nasib obat dalam tubuh sehingga kadar dalam darah dan pola metabolism tubuh berubah
Setia individu dapat memberikan reaksi yang berbeda terhadap obat
Perbedaan Farmakodinamika dan Farmakokinetika tergantung kepada gen (defisiensi enzim, hiperproduksi, enzim, atau modifikasi/polimorfisme) enzim dapat membentuk bermacam-macam enzim à dapat terjadi resisten à disebut juga idiosinkrasi.
Idiosinkrasi : obat memberikan efek yang berbeda terhadap orang/pasien.
Anomali genetic yang sudah jelas dikenal
Defisiensi glukosa 6 fosfat dehidrogenase enzim yang berperan pada metabolisme glukosa/karbohidrat, pada metabolisme. Pembentukan energi à ATP. NADH berperan pada membrane eritrosit yang berhubungan dengan Glutation.
Untuk metabolism KH à ES Anemia hemolifik jika enzim g dan Fd kurang didalam tubuh. Yang berkaitan dengan usia eritrosit
Gangguan glukoronal tranferase
Dalam tubuh disempurnakan pada usia 2 bulan, pada bayi yang kekurangan enzim ini à terjadi gangguan pada saat menerima obat-obat tertentu.
Defisiensi methomoglobin reduktase
Seseorang yang kekurangan enzim ini dapat mengalami keracunan karena kekurangan oksigen à susah bernafas à susah bernafas à kematian.
Akatalosemia : (defisiensi : Katalase enzim)
Enzim yang berguna untuk mencegah oksidasi sehingga dapat terjadi oksidasi berlebihan dari radikal bebas pada seorang yang tidak mempunyai/kekurangan enzim ini.
Dapat berlanjut menjadi mothemoglobin à kanker
Produksi berlebih asam aminolevulinat
Dapat terjadi porporia (Suatu penyakit kulit) yang terjadi sebagai akibat penimbunan porfirin
Asetilose tinggi/rendah
Asetilose tinggi à obat cepat terurai à kadar dalam darah indeks terapi tidak tercapai.
Polimorfisme Sitokrom P-450 (dapat bervariasi à 1000)
Mempunyai banyak isoenzim seperti CYP, dll. Sehingga banyak obat yang dapat dipengaruhi.
Polimorfisme kolinasterase dalam plasma
Jika kolinasterase berubah à asetikolin tidak dimetabolisme (efek terhadap tubuh)
Seseorang yang membentuk sedikolinosterase, sehingga asetilkolin tidak terurai.
Rakhitis yang resisten terhadap vitamin D
Orang yang tidak dapat membentuk Vitamin D dengan berjemur atau orang yang tidak dapat menerima vitamin D dari luar, biasanya rakhitis enzim nya tidak sempurna.
Gejala kaki O dan X
Modifikasi enzim dekarboksilose
Defisiensi Glukosa G. Fosfat dehidrogenase (G.GPD)
Hb + Zat Pengoksidasi à H2O2
H2O2 + 2 GSH 2GSH + GSSG
Glutation SH GSH (Glutationj tereduksi)
GSSG + NADPH 2 GSH + NADP
Tidak stabil
Bila dimembran eritrosit à Pecah
G-GP + NADP à G-GPD, GPG + NADPH
6 Fospo glukosa
Siklusnya !
H2O2 H2O
Glutation peroksidase
GSH GSSG
Glutation tereduksi Glutation teroksidasi
G. Reduktase
NADP NADPH
Glukosa
Glukosa GP GGPD G. Fosfat glukonos
NADP
NADH
Fruktosa 6 Fosfat à à à Ribulosa
Bila G. 6 PD kurang à NADP banyak à ESSG tidak direduksi (menekan Rx GSSG menjadi GSH)
GSH diperlukan untuk menstabilkan membran, kekurangan GSH, eritrosit lisis <>
Usia eritrosit 120 hari (normal)
Pada defisiensi GGPD usia ertitrosit pendek
Regulasi Pecahnya Sel Darah Merah (Normal)
Pada eritrosit muda, konsentrasi G. 6 PD normal, dengan peningkatan usia eritrosit, enzim G.6 PD cepat turun T J nya dari sel normal (bukan defisiensi) dan cepat hilang dari sel darah merah.
Bila kemudian mendapatkan obat yang ES nya terhadap darah terutama nomolisis maka, terjadi ES Anemia hemolitik. Misalnya : Sulfonamida yang dapat menimbulkan hemolisis.
Bila defisiensi G. 6 PD
Anemia hemolitik meningkat à fatal
Obat yang ES nya hemolisis akan menonjol pada orang defisiensi G. 6PD, yaitu :
Anti Malaria
Ferosetin : para pemotidin yang dapat menyebabkan methomoglobin
Fenotiazin
CAptopril
Sulfon (Dapson)
Glafenin à analgetika
Aspirin
Vitamin K, analog Vitamin K
PAS
Sulfonamida
Penisilin dosis tinggi
Rifampisin
Naproken
Metildopa
Asam naliditesat (gol. Kuinolon), dll
ES Anemia nemolitik Paling Parah
Pada orang Negro (Afrika)
Penduduk Laut Tengah (Yunani, Sardinia)
Orang India 10%
Defisiensi G. 6PD : ada gen ikatan X resesif
Frekuensi : 10% pada Negro pria 1% pada Negro wanita
Anemia hemolitik dapat juga terjadi karena defisiensi :
Adenin trifosfat
Adenilat kinase
Aldolase A
Difosfogliserat mutase
α-glutamyl sistein sintetase
G. 6PD
Glutation peroksidase
Glutation Sintetase
Heksokinase
Heksosefosfat Isomerose
Fosfogliserat kinase
Pirimidin S’ nukleotida
Piruvat Kinase
Triose Fosfat Isomerose
Gangguan glukoroniltranferase
Hiperbilirubinemia non hemolitik
Definisi Glukosonil Transferase
Eliminasi metabolime obat (glukoronidase (Rx dengan as. Glukonronat oleh enzim)) bilirubin darah naik, kernik terus (sampainya bilirubin ke otak terutama pada bayi à bayi kuning, kematian).
Obat-obat yang dimetabolisme glukoronil transferase
PCT
Kiloramfenikol
Sulfonamida
Kloramfenikol
Efek Toxic Kloramfenikol
Paramyelopathi/anemia aplastik
Gangguan pematangan sel darah merah (ertropoisis) à Reversibel
Gray syndrom pada bayi juga dapat terjadi pada dewasa
Rx. Hexheimer à jariseh pada Tifus
Bila Kadar kloramfenikol (pada orang yang defisiensi glukoronil transferase) terlalu tinggi pada darah, sehingga sel samonola pecah à keluar endotoksin à Shock anafilotati
Hambatan sintesis protein mikrosomal à inhibisi enzim (kloramfenikol menginhibisi enzim spesifik) pada pemakaian yang terus menerus.
Sulfonamida
Asam glukoronat terkonjugasi pada sgs NH (amin aromatis)
Efek antibakteri hilang
Tanpa glukuronidase à efek toksisitas naik
Kontra Indikasi
Pada Insufisiensi glukuronil transferase
Bayi <>
Wanita Hamil dan Menyusui
Fenasetin/Paracetamol
KI - Defisiensi glukoronil transferase
Bayi 2 bulan
Keracunan akut Ferasetin
Gelisah, methemoglobinemia, lemah, delirium, kejang, lumpuh pernafasan, koma.
Keracunan Kronis :
Anemia hemolitik, keracunan ginjal.
Asetilase
Variasi individu, factor genetika produk enzim lebih banyak, maka aktivitas naik, atau jumlah enzim tetap tetapi struktur berbeda (sehingga terjadi peningkatan aktivitas)
Asetilator lambat
Eskimo 5%
Jepang 10%
Korea 11%
Ainu 13%
Thailand 33%
Filipina 32%
Indonesia (Jawa) 33%
Burma 37%
Malaysia 42%
Cina 22%
Negro 50%
Kecepatan asetilase meningkatkan pada DM (mungkin kenaikan) enzim akibat kelainan metabolisme glukosa meningkat à enzim asetilase terpicu. Efek obat tertentu cepat hilang.
Penurunan Asetilase à Pada mal nutrisi primer atau sekunder
Penentuan kelompok Asetilator
Menggunakan obat yang diasefilasi
Penentuan kinetic
Penentuan T ½
Rasio metabolik senyawa asetil
Toksisitas juga dapat terjadi pada :
Protein plasma
Enzim pemotabolisme
Obat-obatan yang di asetilasi
INH à asetilasi 75%, T ½ berbeda pada asetilator cepat dan lambat Dosis terlalu tinggi, bisa muncul gangguan ssp dan perifer
DOS (dapson)
Hidralazid
PABA
PAS
Sulfonamida
Pusing
Sakit kepala
Hiperrefleksia
Neuritis
Gangguan saluran cerna
Alergi
Leukopenia
Kerusakan hati (jarang)
Sulfonamida 0-60%
Sufakarbamid 15%
Sulfasomidin 10-35%
Sulfamoksol 45-60%
Sulfametoksazol 0-30%
Sulfametoksidiazin 15-30%
Sulfadimotoksin 10-25%
ES : Krietal uria menonjol pada asetilator cepat (asetil sulfonamide à mengendap)
PAS : Asetilasi : 75-85%
Metabolitnya : asetil PAS; glisin PAS
Asetilator lambat : efek samping naik, toksisitas sebanding pada bayi <>
ES : - Gangguan saluran cerna
Alergi
Kadar protombin turun
Hambatan kerja kelenjar tiroid
Gangguan darah
Toksisitas fenitoin naik pada asetilator lambat
Defisiensi Katalase (akatalasemia)
Sering terjadi pada orang jepang, sehingga H2O2 tidak digunakan pada cabut gigi. Karena katalase menguraikan H2O2. Penggunaan H2O2 pada orang dengan akatalasemia akan terjadi porodontosis yang parah (bengkak), nyeri gusi, mothomoglobin. H2O2 terbentuk dari oksidasi sel dalam tubuh.
Efek H2O2 : Gangguan intestine, Iritasi, tukak kolon/tukak peptik.
Defisiensi Mothomoglobin Reduktase
MetHb normal 1-3% secara normal direduksi
Defisiensi metHb reduktase menyebabkan kadarnya MetHb dalam darah naik 20-50x
Gejala Met Hb
Sianosis
Sakit kepala
Pusing
Lesu
Jantung berdebar
Sulit bernafas
Suhu tubuh menurun (hipotemi)
Kematian
Penyebab :
Obat (Ferosetin)
Naftalen (pada mainan anak-anak)
Nitrit (pada biscuit yang beracun), dll.
Terapi : reduktor I.V (birutoloidin, asam askorbat glutation, metilen blue à I.V infus)
Polimorfisme Kolinesterase dalam plasma
Kolinesterase cacat aktivitas berkurang menjadi 20-30%
Kolinosterase normal à penguraian suksametonium lambat à Relaxi otot (lumpuh pernafasan)
Kasus : setelah penyuntikan suksametonium klorida (muscle relaxan depolarisasi), 3-4% pasien mengalami relaksasi otot-otot lumpuh pernafasan tidak terjadi pada dibukain, dapat diatasi dengan adrenalin atau kolinergik (neostigenin)
Dibukain hanya diuraikan oleh pseudoesterase.
Pada kerusakan hati : esterase meningkat
SGOT SGPT terbentuk banyak
Produksi berlebihan asam amino Ievulinat sintetase
Enzim mopati α –ALA- sintetase (berlebih) menyebabkan porfiria dominan. Produksi porfirin dan perkusor porfirin naik.
Obat dengan ES porfiria (yang menginduksi α –ALA- sintetase)
Obat-obatan yang menginduksi α –ALA- sintetase :
Barbiturat
Alil barbiturate
Fenobarbital
Fenilbutazon
Sulfonamida
Estrogen
Preigonondiol
Pregnanolol
Sulfon
Eriseovulfin
Kloroquin
Sodormid
Obat-obatan tersebut juga dapat digunakan pada defisiensi α –ALA- sintetase tapi KI pada keadaan porfirin
Penginduksi α –ALA- sintetase selain obat
Heksaklorobenzen (Fungisida pada sayuran)
Kelaparan (glukosa merupakan repressor aktivitas α –ALA- sintetase hepatic) α –ALA- sintetase naik
Haem à mioglobin, katalase, peroksidase dan sitokrom
Gugus prostetik Salah satu prekusor haem à protoporfirin
dari Hemoglobin
(Hb)
2 α – ketoglutarat + glisin à pirol
4 pirol à protoporfirin III
protoporfirin III + Fe à haem
4 haem + globin à hemoglobin
Uro (uroporfirin) I, III, copro (coproporfirin) I, III terdeteksi dijaringan
“Patofarmakologi dan Toksikologi”
Klasifikasi Porfiria
Porfiria eritropoetik (kongenital eritropoetik)
Porfiria hepatik (genetik) à oleh obat-obatan yang menginduksi enzim griseovulfin ditemukan pertama di Swedia dan Afrika Selatan.
Diperoleh secara genetik
Acute intermittent porfiria (Swedia)
Porfiria variegata (Afrika Selatan)
Coporfiria herediter
Porforia cutaneatarda
Akibat toxin, alkoholisme, Industri neksaklrobenzen
Acute Intermittent Porforia (Porforia hepatik secara genetik)
Terjadi pada dewasa muda
Gejala :
Kolik abdominal
Paresis (lemah otot)
Paralisis
Gangguan Fisik
Porfiria Cutaneatarda (genetik)
Terjadi pada dewasa
Gejala :
Fotosensitif
Pigmentasi Kulit
Disfungsi hati
Porforia kongenital (porforia eritropoetik, P. Fotosensitif) terjadi pada bayi baru lahir
Dermatitis (eksim, kena sinar matahari à melepuh)
Terbentuk vesikel
Bagian gusi merah (seperti berdarah)
| Gangguan biokimia Met. pirol | Peningkatan | Gejala Klinis |
| Aktivitas α – ALA sintetose naik | α – ALA PBG |
Coporforia herediter |
| Aktivitas Uragen II Co Sintetase naik | Pembentukan URO I |
|
| Produksi proto III naik | Akumulasi Proto III | Protoporforia (adanya prototein dalam eritrosit) |
Polimorfisme Sitokrom P-450
Polimorfisme merubah aktivitas oksidasi pada kelompok oksidator cepat
90% penduduk eropah merupakan oksidator cepat untuk spartein deprisokuin, nortritilin, pemblok α – adrenoreseptor (propanolol, metoprolol)
Luar Eropah oksidator lamat à kadar plasma meninggi à toksisitas naik.
Keracunan anti depresan trisiklik (TCA) : gejala kardiovaskular berat
Tahhikardia, gangguan ritmus jantung, hipertermia, dilirium, kejang, pada korus berat jantung dan pernafasan berhenti.
Keracunan blokor β adrenoreseptor
Tak spesifik :
Gangguan saluran cerna (mual, muntah, diare)
Gangguan SSP (lelah, sakit kepala, linglung)
Alergi
Spesifik :
Kontraksi jantung lemah, bradikardia
Hipoglisemia spontan, ketosidosis pada penderita DM
Gangguan ventilasi saluran pernafasan
99n β2 adrenoreseptor pada DM à Hipo dan Hiperglisemic
Adrenalin yang diblok à tidak terjadi perubahan glukogen à glukosa à Hipoglisemia
β2 à Insulin diblok à hiperglisemia
Resistensi Vitamin D
Tidak dapat menggunakan Vit D à Rakhitis
Penanganan dengan Vit D dosis tinggi secara 1.V
Modifikasi enzim dekarboksilase
Keju (tirosin) dekarboksilase tiramin (suatu amin biogenik)
Bila aktivitas dekarboksilase tinggi, tiramin tinggi à HT
Alpukat à sudah langsung mengandung tiramin
Patologis Sistem Biotransformasi
Etiologi :
Geneik (defisiensi enzim, hiperaktif enzim)
Insufisiensi hati
Variasi flora usus
Kerusakan hati (zat hepatotoksik, virus)
Induksi enzim
Inhibisi enzim
Zat hepatotoksik :
PCT, Tetrasiklin, griueovulfin, alkohol
Induktor enzim
Langsung merusak sel-sel hati
Mengendapkan zat/mengikat
Makromolekul dihati (spt : PCT)
Vitamin E à ditimbun dihati
Insufisiensi Hati
Fungsi Hati menurun, kemampuan metabolisme turun, gangguan sintesis (protein, lipoprotein, vitamin) katabolisme dan sekresi hati (organ empedu).
Gangguan Fungsi hati :
Akut
Kronis
Ringan
Berat
Koma hepatikum
Jika kerusakan hati yang disebabkan oleh virus : selama virus tidak mengikat gn dihati seperti hepatitis A
Jika hepatitis (penularan dengan jarum suntik) à sirosis Hati, karena hati menjadi tak berfungsi
Sel hati dapat bergenerasi
Sel saraf induk à tidak dapat bergenarasi à oleh karena itu penyakit-penyakit syaraf sulit diobati.
Jika dendrit dan Sensor pada syaraf à dapat recorvery
Gangguan metabolisme
Gangguan energi ; met (penurunan konsentrasi ATP, penurunan perbandingan NAD/NADH)
Gangguan Met KH (penurunan kandungan glikogen, hiperglusemia, hipoglisemia, tidak mampu menggunakan laktak)
Gangguan Met. Lipid (reduksi sintesis lipoprotein, tidak mampu menggunakan asam lemak sehingga hiperlipidemia, tidak mengestrifikasi kolestrol)
Gangguan Met dan Sintesis protein
Gangguan met. Bilirubin
Gangguan struktur sel hati
KI : zat hepatotoxic, Induktor dan Inhibitor enzim.
Semua obat TB à hepatotoxic
Streptomicyn adalah obat TB gol aminoglikosida yang tidak berefek langsung pada hati tapi dapat merusak ginjal.
Komahepatikum dan perlemakan hati
Komahepatikum : Gangguan kesadaran denngan perubahan fisik, gangguan motorik dan patologi pada ensefalogram
Pelemakan hati : ditunjukkan dengan akumulasi lemak terutama trigliserida sampai 29% dari berat hati.
Akibat penimbunan lemak dihati terjadi gangguan sintesis VLDL, apolipoprotein, Fosfolipid, kolestrol dan TB dalam hati.
Fibrosis hati dan Sirosis hati
Fibrosis hati : perbanyakan jaringan ikat pada hati
Sirosis hati : Gangguan hati dengan fibrosis dan neksosis sel hati (kerusakan jaringan yang struktur pembuluh)
Akibat sinosis
Kemampuan sintesis turun
Aktivitas kolinesterase turun
Albumin serum turun
Faktor pembekuan darah turun
Penurunan fungsi konyugasi dan detoksifikasi
Bilirubin dan amoniak serum naik.
Penginduksi Fibrosis dan sirosis hati
Zat-zat warna yang ilegal, pengawet, micotoxin (aflatoxin)
Klasifikasi sirosis berdasarkan faktor penyebab :
Sirosis etilasetat, alkohol 40-50%
Sirosis post progenetik 20-30%
Sirosis Kriprogenetik (penyeba tidak jelas) 2-30%
Sirosis idiopati (pada wanita monopause)
Sirosis aktif (pada usia muda)
Penyebab gangguan hati
Intoksikasi alkohol, CHCl3, Toxin toloidin α amanitin, fosfor
Infeksi virus, spirokhet, protozoa, bakteri
Zat hepatotoxic, induktor-inhibitor enzim
Kekurangan oksigen, vitamin atau nutrisi lain
Kegagalan pengobatan akibat induksi enzim
Obat KB cepat terurai oleh pemakaian
Barbiturat
Dioksoperidine ureida (sedatif)
Klorpromazin (transkuilansia)
Impramin (anti depresan)
Meprobamat (anti deprosan)
Parameter kerusakan hati
Urin : bilirubin naik
Serum : - alkalifosfatase naik
Bilirubin naik à urin kuning tua
Glukosa darah turun
Brom sulfalein (BSF) naik
Flokulasisefalih naik
Kolestrol turun
Uji kekeruhan tirrol naik
SGOT, SEPT. naik à ptama lepas pada kerusakan
Obat-obat Hepatotoxic
Allopurinol
Amfoterisin B (mengikat sterol)
Kloramfenikol (inhibitor enzim)
Klordiazepoksid (induktor enzim)
Klorpromazin (induktor enzim)
Siklofosfamid
Sikloserin
Difenilhidantoin
Eritromisinestilat (inhibitor enzim)
Haloperidol
Imipramin
Indometasin
Tolbutamid
Metotrexat
Metildopa
Metiltiourasil
Oleandomisin
Oksasilin
Oksazepam
Pertenazin
Fenofiazin
Proka Inamid
Propil tiourasil
Sulfonamida
Tetrasiklin
Zat-zat yang menginduksi penyakit hati
| Obat | Cholestatis Jaundice | Hemolitic Jaundice | Hepatoselular Jaundice | Mixed Jaundice |
| PCT |
|
| X |
|
| Asetanilid |
| X | X |
|
| Atetinomisin |
|
|
|
|
| Kloramfenikol | X |
|
|
|
| Diazepam | X |
|
|
|
| INH |
|
| X | X |
| Metotrexat | X |
|
|
|
| Noretandrolan | X |
|
|
|
| Norefindron | X |
|
|
|
| Fenasetin |
|
| X |
|
| Fenoorbital |
|
|
| X |
| Sulfonamida |
|
|
| X |
| Testraseitilin |
|
| X |
|
| Tolbutamid | X |
|
|
|
| Uretan |
|
| X |
|
| Stetomisin |
|
| X |
|
| Fenilbutazon |
|
|
| X |
Patofarmakologi sistem Ekskresi
Fungsi ginjal
Ekskresi produk buangan dan racun
Mengontrol TJ dan volume darah dengan cara ekskresi air dan senyawa terlarut (spt : asam urat)
Mengatur pH darah
Sekresi hormon (renin (RAA), erythropoetin, 1, 2, 5 dihidixyuitamin D3)
Menyimpan nutrient tertentu dengan mencegah ekskresi berlebihan (spt : Vitamin E, TG)
Proses diginjal
Filtrasi : elomerulus
Reabsorpsi : Tubular
Sekresi : Tubular
Kompetisi sekresi ditubulus : protenesid dan penisilin
Gangguan Ginjal Akut
Definisi : penurunan fungsi ginjal mendadak dalam beberapa jam sampai dengan beberapa hari yang menyebabkan gagal ginjal untuk mengekresikan sisa metabolisme nitrogen dengan dan tanpa disertai terjadinya gangguan kesehatan?
Definisi Bates dkk : Gangguan Ginjal Akut kenaikan keratinin, serum >50% atau sampai 3 mg/dl. Gangguan ginjal berat, kenaikan kreatinin 100% atau sekurang-kurangnya 3 mg/dl
Di USA : Angka kejadian diluar RS 100 kasus/1 juta penduduk angka kejadian di RS
0,5-1%
Gagal Ginjal Akut (Acute Renol Failure)
Gagal Ginjal akut adalah penurunan fungsi ginjal secara tiba-tiba yang dikarakterisasi oleh :
Ketidakmampuan ginjal untuk mengekresikan produk metabolit (senyawa nitrogen yang tidak berguna dan air)
Ketidakmampuan dalam memelihara keseimbangan asam-basa
Menurunkan kecepatan filtrasi glomerulus (GFR) dan bersifat reversibel.
Asidosis dan alkalis à Terganggunya pada pernafasan
Perjalanan Penyakit
Tahap Inisiasi : Kadar kreatinin serum naik, volume urin turun, retensi cairan, gangguan elektrolit
Tahap Menetap : Volume urin mulai meningkat, masih terdapat retensi dan gangguan elektrolit.
Tahap Penyembuhan : Kadar kreatinin serum menurun, fungsi tubulus berangsur normal
Penyebab GGA : dehidrahsi, syok, hipovolemia, sepsis, netrotoksisitas, obat, gagal jantung, obstruksi postrenal
Gejala klinis :
Uremia (banyak nitrogen dalam darah), lemah badan, gatal-gatal, nafsu makan menurun, mual, muntah, hematemesis (muntah darah), kesadaran menurun hingga koma.
Gangguan elektrolit :
Hipo/hiperkalemia
Hipo/hipernatrimia
Asidosis metabolik
Efusi pleura
Pemeriksaan Lab :
Kreatinin
Fraksi ekskresi Na
FE Na : Na. Urin X Cr. Serum X 100%
CR. Urin Na. Serum
Fraksi ekskresi urea : perhitungan
Na. Urin X Cr. Serum X 100%
CR. Urin Na. Serum
Na : Natrium Cr: Kreatinin
Klasifikasi berdasarkan ekologi
Parerenal : penurunan alirah darah ke ginjal, kekurangan cairan tubuh, volume darah efektif turun, pengaruh oabt (kasus 0-70%)
Renal (Instrinsiu) : Injuri/gangguan pada tubuh atau glomerulus, vaskular, interstinal (kasus 25-40%)
Postrenal : Sumbatan total atau parsial pada ginjal, ureter, kandung kemih (kasus -10%)
Parerenal Azotemia (Penimbunan Nitrogen)
Akibat hipoperfusi pada parenkim ginjal dengan atau tanpa hipotensi arteri sistemik
Hipoperfusi dengan adanya hipotensi renal disebabkan turunnya volume intravaskular dan turunnya volume darah efektif.
Hipoportusi tanpa hipotensi disebabkan hambatan bilateral arteri renal.
Penyebab Prerenal Azotemia
Hipovolemia (kehilangan darah, penggunaan divrefik berlebihan)
Vosodilatasi perifer (obat anti Hipertensi)
Penurunan cardiar output
Peningkatan resutensi pembuluh remal
Obat-obatan yang menyebabkan Prerenal Azotemia
NSAID3 : Menghambat produksi prostagkindin, sehingga menyebabkan peningkatan taharon afferen akteriolar
ACEi : Menurunkan tahonan efferent oerteriolar
ARF Fungsional
Turunnya produksi ultrafiltrasi glomerular untuk menurunkan tekanan hidrostatik glomerular tanpa adanya kerusakan pada ginjal
Arf Instrinsik : Terjadi karena kerusakan pada ginjal itu sendiri, kerusakan terjadi pada bagian
Tubulus
Interstinum ginjal
Glomerulus
Post renal failure : Disebabkan oleh obstruksi yang terjadi dari tubulus ginjal sampai uretra, terjadi penumpukan buangan nitrogen. Obstruksi yang sering terjadi adalah obstruksi kandung kemih.
Penyebab PRF :
Obstruksi uretra : (terjadi pembekuan darah, batu dan kristal, nokrosis, papilari, tumor dan fibrosis)
Obstruksi kandung kemih : infeksi kandung kemih, hipertrofi posfat, kanker kemih, injufisienji saraf, obat-obatan.
Obat-obatan yang menginduksi konservatif
Tahap I : Memperbaiki etiologi : rehidrasi untuk dehidrasi sepsis diobati
Tahap II : merubah oligouria menjadi non-oligouria, pemberian diuretik (furosemid, bumetanid, manitol)
Tahap III : Mempertahankan homeostatis tubuh, hiperkalomia, dan osidasis dihindarkan, diet protein 0,0-1,09/Kg perhari garam dikurangi.
Penanganan dengan renol replacement therapy(dialisis, hemoperfusi cangkok ginjal)
Hemoperfusi à melewati suatu resin untuk menghambat racun
Kriteria untuk renal replacement therapy
Oliguria (output urin <>
Anuria (<50>
Hiperkalemia > 6,5 mmol/l
Severe acidemia (pH <>
Azotemia (Urea > 30 mmol/l)
Uremic pericarditis
Uremic neuropathy/myopathy
Severe dysnatremia (Na) > 160 atau 15 mmol/l
Hypostermia (demam)
Over dosis obat
Non alogouria <>
Normal (500 ml – 1L/12 jam)





