BAB I
PENDAHULUAN
Fitokimia adalah ilmu yang mempelajari berbagai senyawa organic yang dibentuk dan disimpan oleh tumbuhan, yaitu tentang struktur kimia, biosintetis, perubahan dan metabolism, penyebaran secara alami dan fungsi biologis dari senyawa organic. Fitokimia atau kadang disebut fitonutrien, dalam arti luas adalah segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan dari sumber tumbuhan, termasuk sayuran dan buah-buahan. Dalam penggunaan umum, fitokimia memiliki definisi yang lebih sempit.
Fitokimia biasanya digunakan untuk merujuk pada senyawa yang ditemukan pada tumbuhan yang tidak dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh, tapi memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan atau memiliki peran aktif bagi pencegahan penyakit. Karenanya, zat-zat ini berbeda dengan apa yang diistilahkan sebagai nutrien dalam pengertian tradisional, yaitu bahwa mereka bukanlah suatu kebutuhan bagi metabolisme normal, dan ketiadaan zat-zat ini tidak akan mengakibatkan penyakit defisiensi, paling tidak, tidak dalam jangka waktu yang normal untuk defisiensi tersebut.
Tujuan Percobaan Karakterisasi Simplisia
Memahami pentingnya uji kebenaran simplisia
Dapat melakukan uji kebenaran simplisia secara kimia
Dapat menjamin kebenaran simplisia
Tujuan Percobaan Skrining Fitokimia
Dapat mendeteksi senyawa kimia tumbuhan berdasarkan golongannya dan mengidentifikasikan senyawa kimia tersebut
Menjadi informasi awal untuk mengetahui senyawa kimia yang mempunyai aktivitas biologis.
Tujuan Percobaan Penetapan Zat Identitas
Menguji kualitas simplisia
Menguji keseragaman kandungan simplisia
Tujuan Percobaan Ekstraksi
Mengerti prinsip kerja ekstraksi cara dingin dan cara panas
Dapat menentukan metode ekstraksi yang sesuai
Mengerti prinsip kerja alat refluks dan soxhlet
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Karakteristik Simplisia
Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan lecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan.
Simplisia nabati adalah simplisia berupa tumbuhan utuh, bagian tumbuhan atau isi sel yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya atau senyawa nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya dan belum berupa senyawa kimia murni.
Variasi kandungan kimia tumbuhan obat (in vivo) disebabkan oleh :
Genetik (bibit)
Lingkungan (tempat tumbuh, iklim)
Rekayasa agronomi
Panen (waktu dan pasca panen)
Tahapan pembuatan simplisia yang baik
Pengumpulan bahan (panen)
Sortasi basah
Pencucian
Sortasi kering
Perajangan
Pengeringan
Penyimpanan
Karakteristik simplisia meliputi :
Mikroskopik
Kadar air
Susut pengeringan
Kadar abu
Kadar sari larut air dan larut etanol
Bahan organik asing
Skrining Fitokimia
Skrining fitokimia bertujuan untuk menentukkan golongan metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas biologis yang ada dalam tumbuhan . Metode yang digunakan dalam penapisan fitokimia harus selektif, sederhana, cepat serta hanya memerlukan sedikit alat dan bahan.
Skrining Fitokimia meliputi :
Identtifikasi lignin
Serbuk simplisia ditetesi dengan larutan floroglusin dalam asam klorida membentuk warna merah.
Identifikasi alkaloid
500 mg serbuk simplisia dibasakan dengan 1ml ammonia pekat, digerus dengan 5 ml kloroform, disaring kemudian dikocok dengan 1 ml asam klorida 2N. diambil lapisan anorganik, ditetesi :
- pereaksi Mayer atau pereaksi
- pereaksi Mayer atau pereaksi Bouchardat membentuk endapan putih kekuningan.
- pereaksi Dragendorff membentuk endapan kuning kecoklatan.
3. Identifikasi kuinon
500mg serbuk simplisia ditambah 50mL aquadest panas, dididihkan selama 5 menit. Sedikit fittrat ditetesi dengan larutan natrium hidroksida 1 N membentuk warna merah.
4. Identifikasi tanin
500mg serbuk simplisia ditambah 50mL aquadest panas, dididihkan selama 15 menit kemudian didinginkan. Sedikit fiitrat :
- ditetesi larutan besi klorida 1% membentuk warna hitam kehijauan menunjukkan tanin total.
- ditetesi pereaksi Steasny membentuk wama merah muda menunjukkan tanin katekat.
- dijenuhkan dengan natrium asetat clan ditetesi larutan besi kkuida 1% membentuk wama biru tinta menunjukkan tanin galat.
5. ldentifikasi flavonoid
500mg serbuk simplisia direfluks dengan 10mL metanol selama 10 menit, disaring clan diencerkan dengan 10m1 air, didinginkan.
Nambah 5mL eter minyak bumi, dikocok. Diambil tapisan metanol kemudian diuapkan.
Sisanya dilarutkan dengan 5mL etil asetat.
Filrat ditambah 500mg serbuk zink dan 2mL asam k{orida 2N, didiamkan selama I menit
Ditambah 10 tetes asam klorida pekat membentuk wama merah intensif.
Filtrat diuapkan, sisanya dilarutkan dalam etanol drtambah 100mg serbuk magnesium dan 10 tetes asam klorida pekat membentuk :
Wama merah jingga sampai merah ungu untuk flavonoid.
Wama kuning jingga untuk flavon, halkon dan auron.
6. Identifikasi glikosida
500mg serbuk simplisia direfluks dengan 30mL metanol 70% selama 10 menit, didinginkan clan disaring.
Fiitrat ditambah 25mL aquadest clan 25mL timbal asetat 0,4N, dikocok clan didiamkan selema 5 menit, disaring.
Filtrat diekstraksi tiga kali dengan 20mL campuran kioroform:isopropanol (3:2), ekstrak dikumpulkan dan ditambah natrium sulfit anhidrat kemudian disaring dan diuapkan.
Sisanya dilaruttkan dengan 3mL metanol, setiap pengujian memerlukan 3 tetes filtrat.
Filtrat diuapkan, sisanya dilarutkan dengan 5mL asam asetat glasial ditambah 10 tetes asam sutfat pekat membentuk wama biru atau hi~au menunjukkan glikosida (reaksi Liebemiann-Buchard).
Filtrat diuapkan, sisanya dilanAkan dengan 2mL air ditambah 5 tetes pereaksi Mollisch. Ditambahkan 2mL asam sutfat pekat dengan hati-hati sehingga terbentuk cincin benvama ungu pada batas cairan menunjukkan ikatan gula.
Filtrat diencerkan dengan 3mL metanol ditambah pereaksi Bafjet membentuk wama jingga menunjukkan glikosida dan aglikon kardenolida (glikosida jantung).
Filtrat ditambah 2mL pereaksi Kedde dan 2mL kalium hidroksida 1 N membentuk wama merah ungu sampai biru ungu menunjukkan glikosida dan aglikon.
Filtrat diuapkan, sisanya ditambah larutan xantidrol 0,01 % dalam asam asetat dan 1 tetes asam klorida pekat membentuk wama kuning intensif, dipanaskan dalam penangas air selama 3 menit berubah menjadi merah intensif menunjukkan glikosida dan glikon-2desoksi gula.
Filtrat diuapkan, sisanya dilanitkan dengan 3mL asam asetat encer dengan pemanasan, didinginkan, ditetesi besi klorida 0,3M kemudian ditambah campuran 3mL asam sulfat pekat dan 1 tetes besi klorida 0,3M membentuk cincin berwama merah coklat pada batas cairan menunjukkan glikosida dan glikon-2-desoksi gula (reaksi Keller-Killidein).
7. Identifikasi saponin
500mg serbuk simplisia ditambah lOmL aquadest panas kemudian didinginkan dan dikocok kuat selama 10 detik. Terbentuk busa setinggi 1-10 cm yang stabil selama 10 menit. Pada penambahan 1 tetes asa^i klorida 2N, busa tidak hilang.
8. Identifikasi sterois/triterper~oid
500mg serbuk simplisia dii-naserasi dengan 20mL eter selama 2 jam. Sedikit fiitrat ditetesi dengan 5mL asam asetat glasiat ditambah 10 tetes asam sulfat pekat membentuk wama merah atau hijau.
Penetapan Zat Identitas
Deret eluotropik (dari non polar ke polar)
-
Ko pada 20°C
Viskositas pada 20°C
Titik didih CC)
Heksan
1,890
0,326
68,7
Heptana
1,924
0,409
98,4
Sikloheksan
2,023
1,020
81,4
Karbon tetraklorida
2,238
0,469
76,8
Benzena
2,284
0,652
80,1
Kloroform
4,806
0,580
61,3
Dietil eter
5,340
0,233
34,6
Etil asetat
6,020
0,455
77,1
Piridin
12,30
0,974
115,1
Aseton
20,70
0,316
56,5
Etanol
24,30
1,200
78,5
Metanol
33,62
0,597
64,6
Air
80,37
1,005
100
Ekstrak adalah sediaan kental yang didapat dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia dengan menggunakan petarut yang sesuai kemudian semua atau hamper semua pelarutnya diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperiakukan sampai memenuhi bahan yang telah ditetapkan. Parameter standar ekstrak meliputi kandungan organoleptik, kelarutan, keasaman, bobot jenis, vikositas/kekentalan, kadar air, bahan padat total, zat identitas, profit kromatografi, anatlisa kuaCrtatif dan kuantitatif, kemantapan fisika dan kimia.
Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu ekstrak :
1. Faktor biologi
Identitas jenis (spesies) yaitu jenis tumbuhan dari sudut keragaman hayati dapat
dikonfrrmasi sampai informasi genetik sebagai faktor internal untuk validasi jenis (spesies).
Lokasi tumbuhan asal merupakan faktor ekstemal yaitu lingkungan (tanah dan atmosier)
dimana tumbuhan berinteraksi yang berupa energi (cuaca, suhu, cahaya) dan mated (air,
senyawa organik dan anorganik).
Periode panen merupakan dimensi waktu dari proses kehidupan tumbuhan terutama metabolisme sehingga menentukan kandungan kimia tumbuhan. Harus diketahui waktu kandungan kimia mencapai kadar optimal selama proses biosintesis dan waktu sebe4um senyawa tersebut diubah atau dikonversi atau di-biotransformasi atau di-biodegradasi menjadi senyawa lain.
Penyimpanan bahan tumbuhaR merupakan faktor ekstemal yang dapat diatur, mempengaruhi stabilitas bahan dan cemaran (biotik dan abiotik).
Ekstraksi
Ekstraksi atau penyarian adalah kegiatan penarikan zat yang dapat larut dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair.
Faktor yang mempengaruhi kecepatan ekstraksi adalah kecepatan difusi zat yang larut melalui lapisan batas antara pelanrt dengan simplisia. Dengan mengetahui zat aktif yang terkandung dalam sirtrplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat.
Struktur kimia yang berbeda mempengaruhi kelarutan dan stabilitas zat aktif tefiadap pemanasan, kogam berat, udara, cahaya dan derajat keasaman.
Ekstraksi harus memperhatikan sifat fisik simplisia, sifat zat aktif dan sifat zat yang ada dalam simplisia seperti protein, kart)ohidrat, lemak dan gula.
Kriteria pelarut yang baik adalah :
1. Murah dan mudah didapat
2. Stabil secara fisika dan kimia
3. Bereaksi netral
4. Tidak mudah menguap fan terbakar
5. Selektif, hanya menarik zat aktif yang diinginkan
6. Tidak mempengaruhi zat berkhasiat
7. Diperbolehkan oleh peraturan pemerintah
Metode ekstraksi :
1. Cara dingin
a. Maserasi
Pelarut akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dank arena ada perbedaan konsentrasi antara tarutan zat aktif di datam sel dan di laur sel mala lanitan yang lebih pekat akan didesak keluar, terjadi secara berulang-ulang sampai tercapai kesetimbangan konsentrasi antara di dalam dan di luar sel.
10 bagian simplisia ditambah 75 bagian pelanut, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari dan terlindung dari cahaya sambil diaduk berulang-ulang kemudian disaring dan diperas.
Ampas ditambah pelarut, diaduk kemudian disaring sampai didapat 100 bagian ekstrak.
Bejana ditutup dan dibiarkan selama 2 had di tempat yang sejuk dan teriindung cahaya.
Endapan dipisahkan kemudian ekstrak cair dipekatkan dan ditimbang.
b. Perkolasi
Perkolasi dilakukan dengan mengalirk?n pelarut metalui simplisia yang telah dibasahi. Simplisia dalam oejana silinder dengan bagian bawah mempunyai sekat berpori. Pelarut dialirkan dari atas melatui simplisia, pelarut akan melarutkan zat aktif sela yang dilaluinya sampai larutan jenuh.
Gerak ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya berat larutan dan pelarut di atasnya dikurangi dengan gaya kapiler yang cenderung menahannya.
Basahi 10 bagian simplisia dengan 2,5-5 bagian petarut, masukkan ke dalam bejana,biarkan 3 jam.
Pindahkan massa ke dalam perkolator sambil ditekan.
Tuangi dengan pelarut sampai ekstrak menetes dan di atas simplisia terdapat selapis pelarut.
Perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam.
Ekstrak dibuat menetes dengan kecepatan 1 mUmenit sampai jika 500mg perkolat terakhir diuapkan maka tidak ada sisa atau dengan cara memeriksa zat aktif secara. kualitatif.
Perkofat diuapkan dengan suhu <>°C kemudian ditimbang.
2. Cara panas
a. Dekok dan infus
Infus adalah sediaan air yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia dengan air pada 90°C selama 15 menit, sedangkan dekok selama 30 menit.
Ekstrak kurang stabil dan mudah tercemar oleh bakteri dan jamur sehingga tidak boleh disimpan tebih dari 24 jam pada suhu kamar.
Basahi simplisia dengan air, dua kali bobotnya, untuk bunga empat kali bobotnya dan untuk karogen sepuluh kali bobotnya.
Umumnya untuk 100 bagian ekstrak mernerlukan 10 bagian simplisia, kecuali :
Ketarutan kandungan simplisia terbatas seperti kulit kina memertukan 6 bagian.
Disesuaikan dengan penggunaan seperti 34 bagian daun kumis kucing untuk 100mL.
Berlendir seperti karagenan pada suhu kamar memerlukan '/2 bagian.
Daya kerja keras seperti diditalis folium dipakai 1 i4 bagian.
Penambahan bahan kimia untuk mempermudah penarikan zat aktif seperti asam sitrat untuk infus kina, kalium atau natrium karbonat untuk infus kelembak.
Disaring selagi panas kecuali untuk bahan yang mengandung senyawa yang mudah menguap, kemudian dipekatkan clan ditimbang.
b. Digesti
Digesti merupakan maserasi secara panas dan kinetik yaitu dengan pengadukan secara kontinu pada suhu 40-50°C.
c. Destilasi uap
Ekstraksi kandungan kimia menguap (minyak atsiri) dari bahan (segar atau simplisia) dengan uap air berdasarican peristiwa tekanan parsial kandungan kimia menguap dengan fase uap air dari ketel secara kontinu sampai sempuma dan diakhiri dengan kondensasi fase uap campuran (kandungan kimia menguap ikut terdestilasi) menjadi destitat air bersama-sama kandungan kimia yang memisah sempuma atau memisah sebagian.
d. Refluks
Refluks dilakukan dengan merendam simplisia datam pelarut di dalam labu bundar. Dengan pemanasan, proses ekstraksi lebih cepat, adanya kondensor akan mendestilasi . pelarut sehingga seolah-olah ditambahkan pelarut baru ke dalam system shingga dapat menank lebih banyak zat aktif.
- 100-200g simptisia ditambah 200-400mL pelanrt (mengisi'/. bagian labu bundar). - Sambungkan ke kondensor, ekstraksi selama 2-4 jam
- Disaring dengan kain kemudian dipekatkan dan ditimbang.
e. Soxhlet
Simplisia selalu berkontak dengan pelarut yang segar. Ekstrak dibawa oleh pelarut masuk
ke dalam tabu bundar, pelarut akan terdestilasi kembali untuk ekstraksi berikutnya. Mudah untuk mengganti pelarut dari non polar menjadi semi polar atau polar dengan cara mengganti isi labu bundar.
100-300g simpiisia dibungkus dengan kertas saring, masukkan ke dalam tabung sampel.
Masukkan 250-500m1 pelarut ke dalam tabu bundar.
Pasang labu bundar dan tabung sampel dengan kondensor.
Ekstraksi selama 6 jam atau sampai ekstrak tidak berwama.
Disaring dengan kain kemudian dipekatkan dan ditimbang
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Karakterisasi Simplisia
Penentuan organoleptik
Pemeriksaan warna, rasa dan bau simplisia dengan panca indera
Pemeriksaan tekstur simplisia dengan indera peras
Penentuan kebenaran jenis simplisia
Determinasi botani
Ambil bagian tumbuhan segar sesuai bagian simplisianya
Lakukan determinasi botani dengan membandingkan karakterisasi bagian tumbhan dengan pustaka
Makroskopik
Ambil simplisia utuh
Lakukan karakterisasi makroskopik dengan membandingkan karakterisasi simplisia dengan pustaka
Mikroskopik
Sedikit serbuk simplisia pada kaca objek diberi satu tetes larutan kloral hidrat
Lakukan karakterisasi mikroskopik dengan membandingkan karakterisasi simplisia dengan pustaka
Skrining Fitokimia
Identifikasi Lignin
Simplisia ditetesi lautan floroglusin dalam HCl membentuk warna merah
Identifikasi Alkaloid
500 mg simplisia di basakan dengan 1 ml ammonia pekat, digerus dengan 5 ml kloroform , disaring kemudian dikocok dengan 1 ml HCl 2 N.
Diambil lapisan anorganik, ditetesi :
Pereaksi mayer atau pereaksi Bouchardat membentuk endapan putih kekuningan.
Pereaksi Dragendorf membenuk endapan kuning kecoklatan
Identifikasi Kuinon
500 mg simplisia ditambah 50 ml aquadest panas, didihkan selama 5 menit.
Sedikit filtrate di tetesi dengan larutan NaOH 1N membentuk warna merah
Identifikasi tannin
500 mg simplisia ditambah 50 ml aquadest panas, didihkan selama 15 menit kemudian didinginkan, sedikit filtrate:
Ditetesi larutan FeCl3 1% membentuk warna hitam kehijauan menunjukkan tannin total
Ditetesi pereaksi Steasny membentuk warna merah muda menunjukkan tannin katekat
Dijenuhkan dengan natrium asetat dan ditetesi larutan FeCl3 1% membentuk warna biru tinta menunjukkan tannin galat.
Identifikasi Flavonoid
500 mg simplisia di refluks dengan 20 ml methanol selama 10 menit, disaring dan diencerkan dengan 10 ml aquadest, didinginkan.
Ditambah 5 ml eter minyak bumi, dikocok. Diambil lapisan methanol kemudian diuapkan.
Sisanya dilarutkan dengan 5 ml etil asetat
Filtrate ditambah 500 mg serbuk zink dan 2 ml HCl 2 N, didiamkan selama 1 menit. Ditambah 10 tetes HCl pekat membentuk warna merah intensif
Filtrate diuapkan, sisanya dilarutkan dalam etanol ditambah 100 mg serbuk magnesium dan 10 tetes HCl pekat membentuk
warna merah jingga sampai merah unggu untuk flavonoid
Warna kuning jingga untuk flavon, khalkon dan auron
Identifikasi Glikosida
500 mg simplisia direfluks dengan 30 ml methanol selama 10 menit, dinginkan dan disaring.
Filtrate ditambah 25 ml aquadest dan 25 ml timbale asetat 0,,4 N, dikocok dan didiamkan selama 5 menit, disaring.
Filtrate diekstraksi tiga kali dengan 20 ml campuran kloroform:isopropanol (3:2), ekstrak dikumpulkan dan ditambah natrium sulfit anhidrat kemudian disaring dan diuapkan.
Sisanya dilarutkan dengan 3 ml methanol, setiap pengujian memerlukan 3 tetes filtrate. Filtrate diuapkan, sisanya dilarutkan dengan 5 ml asam asetat glacial ditambah 10 tetes H2SO4 pekat membentuk warna biru atau hijau menunjukkan glikosida
Filtrate diencerkan dengan 3 ml methanol ditambah pereaksi Baljet membnetuk warna jingga menunjuukkan glikosida dan aglikon (glikosida jantung)
Filtrate diuapkan, sisanya dilarutkan dengan 2 ml air ditambah 5 tetes pereaksi Molisch. Ditambahkan 2 mkl H2SO4 pekat dengan hati-hati sehingga terbentuk cincin berwarna ungu pada batas cairan menunjukkan ikatan gula
Filtrate ditambah 2 ml perekasi Kedde dan 2 ml KOH 1 N membentuk warna merah unggu sampai biru unggu menunjukkan glikosida dan aglikon
Filtrate diuapkan,sisanya dilarutkan denagn 3 ml asam asetat 2 N dengan pemanasan, dinginkan, ditetesi FeCl3 1% kemudian ditambah campuran 3 ml H2SO4 pekat dan satu tetes FeCl3 1% membentuk cincin berwarna merah coklat pada batas cairan menunjukkan glikosida dan glikon 2-desoksi gula (reaksi Keller-Killiden)
Identifikasi Saponin
500 mg simplisia ditambah 10 ml aquadest panas kemudian didinginkan dan dikocok kuat selama 10 detik lalu ukur busanya
Lalu diamkan selama 10 menit ukur lagi busanya
Lalu tambahkan 1 tetes HCl 2 N
Identifikasi Steroid
500 mg simplisia dimaserasi dengan 20 ml eter selama 2 jam
Sedikit filtrate ditetesi dengan 5 ml asam asetat glacial ditambah 10 tetes H2SO4 pekat membentuk warna merah atau hijau
Penetapan Zat Identitas
100 mg simplisia direfluks dengan 100 ml methanol
Dibuat siste, eluen heksan : kloroform (1:1), benzene : etil asetat (1:1), eter : methanol (1:1), aseton : methanol (1:1).
Ekstrak ditotolkan sebanyal lima kali pada plat KLT, dielusi kemudian dikeringkan
Amati secara visual
Tandai bercak yang di amati
Ekstraksi
25 mg simplisia ditambah 50 ml etanol lalu panaskan dengan suhu 60C selama 1 jam
Timbang cawan penguap yang kosong
Setelah 1 jam disaring masukkan ke dalam cawan penguap lalu timbang lagi cawan tersebut setelah di tambahkan zat lalu uapkan
Timbang ekstrak
BAB IV
ALAT DAN BAHAN
Karakterisasi Simplisia
Alat :
Mikroskop 7. Krus
Kaca objek 8. Krus Tang
Moisture balance 9. Kertas Saring bebas abu
Timbangan 10.Corong
Kaca pembesar 11. Erlenmeyer 100 ml
Ayakan No. 250
Bahan :
Simplisia
Kloral hidrat
Aquadest
HCl 2N
Skrining Fitokimia
Alat :
Plat tetes 5. Corong
Pipet tetes 6. Kertas saring
Mortir & Stemper 7. Tabung reaksi
Erlenmeyer 250 ml 8. Rak tabung
Bahan :
Simplisia 11. Larutan FeCl3
Aquadest 12. Pereaksi Steasny
Larutan floroglusin
Ammonia pekat
Kloroform
HCl 2 N
Pereaksi Mayer
Pereaksi Bouchardat
Pereaksi dragendorf
NaOH 1 N
Penetapan Zat Identitas
Alat :
Alat refluks
Corong
Kertas saring
Erlenm,eyer 100 ml
Plat KLT
Pipa kepiler
Lampu UV
Penyemprot bercak
Bahan :
Simplisia
Methanol
Heksan
Kloroform
Benzene
Etil asetat
Eter
Aseton
H2SO4 Pekat
Vanillin
Ekstraksi
Alat :
Timbangan
Becker glass 1000 ml
Kain batik
Batang pengaduk
Corong
Kertas saring
Percolator
Corong pisah
Alat refluks
Alat soxlet
Waterbath
Cawan penguap
Bahan :
Simplisia
Eluen
BAB V
HASIL PERCOBAAN
Karakterisasi Simplisia
Nama simplisia : Rhei Radiks
Nama tumbuhan : Akar kelembak
-
No
Penetapan
Hasil pengamatan
Hasil
1
Organoleptik
Warna
Bau
Rasa
Coklat
pahit
2
Kebenaran simplisia
Makroskopik
Mikroskopik
Skrining Fitokimia
-
No
Identifikasi
Hasil pengamatan
Pustaka
1
Lignin
Tidak ada lignin
2
Alkaloid
Pereaksi Mayer : endapan putih kekuningan
Peraksi Bouchardat : endapan putih kekuningan
Peraksi Dragendrof : endapan kuning kecoklatan
Endapan putih kekuningan
Endapan putih kekuningan
Endapan kuning kecoklatan
3
Kuinon
4
Tannin
Pereaksi FeCl3 1 % : hitam kehijauan (+)
Pereaksi Steasny : biru tinta (-)
Na asetat + FeCl3 1 % : coklat kehitaman (-)
Hitam kehijauan
Merah muda
Biru tinta
5
Flavanoid
+ Zn + HCl 2N : merah intensif (+)
+ Mg + HCl pelat : merah ungu (+)
Merah intensif
Merah ungu
6
Glikosida
+ HAc glacial + H2SO4 pekat : biru (+)
+ air + pereaksi molisch + H2SO4 pekat :
Cincin berwarna ungu (+)
+ methanol + pereaksi baljet : jingga (+)
+ pereaksi Kedde + KOH 1 N : merah ungu (+)
+ HAc 2N + FeCl3 1 % + H2SO4 p-FeCl3 1 % : cincin wrna merah coklat (+)
Biru atau hijau
Cincin berwarna ungu
Jingga
Merah unggu ad biru ungu
Cincin berwarna merah coklat
7
Saponin
+ HCl 2N : busa hilang
Busa tidak hilang
8
Steroid
+HAc glacial + H2So4 pekat : tidak berwarna
Merah atau hijau
Penetapan Zat identitas
-
Heksan:kloroform
Benzene:etil asetat
Eter:metanol
Aseton:metanol
Visual
Perhitungan:1. Rfa = 2 = 0,1960
10,2
2. Rfb = 6,9 = 0,6765
10,2
Rfb2 = 7,2 = 0,7059
10,2
3. RfC = 9,4 = 0,8246
11,4
4. Rfd = 8 = 0,7693
10,4
Ekstraksi
-
Nama Simplisia
Rhei Radiks
Bobot simplisia (A)
93,82
Eluen
Etanol
Volume Eluen
50 ml
Alasan pemilihan Eluen
Metode ekstraksi
Dekok dan infus
Alasan pemilihan
Metode ekstraksi
Lebih mudah dank arena di labnya belum tersedia alat-alat yang lain
Lama ekstraksi
1 Jam
Bobot ekstraksi
35,03
Bobot ekstraksi kental (B)
59,17
Randemen ekstrak
(B) : (A) x 100% = 59,17 : 93,82 x 100% = 63,067 %
BAB VI
KESIMPULAN
Tumbuhan merupakan bahan alamiah yang digunakan sebagai obat untuk berbagai penyakit. Yang digunakan obatnya dalam bentuk simplisianya. Tapi tidak semua tumbuhan bisa dijadikan obat, makanya harus ada pemilihan dahulu dan harus tahu karakterisitik dari simplisia itu. Kita harus tau juga kebenaran simplisianya dilihat dari :
Organoleptik dengan panca indera
Kebenaran jenis simplisia dengan determinasi botani, mikroskopik, makroskopik.
Kadar air dan susut pengeringan
Pengotor
Sebelum menggunakan tumbuhan sebagai obat kita harus tahu dulu senyawa kimia yang terkandung pada tumbuhan itu sehingga kita tahu aktivitas biologisnya dengan melakukan skrining dan ekstraksi serta penetapan zat identitasnya
DAFTAR PUSTAKA
Mekar Nyi, Bahan kuliah Fitokimia, Bandung
Mekar Nyi, Modul Praktikum, Universitas Al-Ghifari :2008
www. google.com





