Aku ada
Tertulis sudah pena cerita
Menghapuskan jalan hidup berliku tiada rasa
Terukir dalam …
Pemisah dinding peluh bisu
Dan hatiku masih dalam tambatan rindumu
Ketika ku tanggalkan
Makna yang terus tumbuh sesakkan dada
Menjelma kian meraja
Diujung nuranimu
Aku mengerti,
Puisi….
hanya penjara diriku dalam kehampaan
Tidak bisa berbuat apa-apa
Puisi hanyalah kenaifan,
Tak berelemen cinta ini termiliki
Mundur jiwaku dari singgasana keegosian hatimu
Ketika ku berpeluh
Ketika waktu ini merambat jauh
Ketika ini, aku tak ada.
Relungan Senja
Di pojok sepi
Sepi sekali
Ketika ada senyap aku lelap
Dalam hembusan nada,
di tengah hutan-hutan belantara
Kau berdiri ..
Mencari kegundahan hati
Membenahi ketegaran hidupmu
Dalam dunia kegetiranmu
Seorang diri
Menapaki perjalanan sunyi
Tanpa melihat aku, kaku
Terjatuh untuk selalu menyertaimu
Kasih, …
Aku mengenal resahmu
Aku ada, untuk hidupmu…
Percayalah dalam pelukan jiwaku
Cerminan Jiwa
Kata terbata dalam rintihan ambisi bersembunyi
Sematkan tunduknya jiwaku
Tertinggal diri lama menggelora
Jika tidak,
Aorta hidup mendekap tiap nada
Lebih sederhana
Tanpa hati yang termiliki
Dimana dunia tiada asa dihati
Tiada sentuhan belaian rasa kasih nurani
Waktu yang mendewasakanku
Dalam kelabilan cinta
…
Entah nanti
Ataukah hari esok
Jiwaku kan mengisi jendela pagi
Yang hinggap berparuh hitam
Melumut tiap-tiap detik
Kesaksian cahaya hatimu
Terpatah-patah
Melawan arus hingga gelap gulita
Mencari setitik pangkalan
Prahara cinta dan rasa
Yang redup
Tapi takkan mati
….
Kasih …
Ku masih janggal !!
Takkan adil kau minta rasa diujung senja
Yang bersemayam luka demi satu serpihan
Memungut keraguan
Tercermin bahasa sikap
Rasaku tiada sepi
Tapi jiwaku selalu sangsi
Bahwa cinta, rindu dan setia
Masih selalu milikmu….
Maafkanku …
Ku kan mengeringkan keretakan ini
Untukmu Malam
Dibawah tiang …
Sejenak ku berdiri dalam pautan malam berpekat
Mendengar rintik gerimis hujan sirna kelam
Bergetar sayutan hembusan nafas panjang
Menerawang rasaku
Menoreh kiasan kehidupan
Sang kekasih berlari diburu kekhawatiran
Tak terhias belakang tersiratkan
Tatapan sunyi memandang
Detik jam berjalan pelan
Memejam, mata perlahan
Angin
terus
berceloteh rakus
Saling berebut ricuh dan gundah
diluaran kedamaian
Kalbu ini kehilangan
Jiwa terus saja terpisah lama
Hati kosong sejenak bertapa
Pikiran hilang tak tau entah kemana
dan…
Hampa
hanya tersenyum menyapa
Kuat betapa senyum ini tertahan
Dahsyat betapa tawa ini terpenjara
Hebat betapa rasa ini menjadi landai
Luar biasa…betapa tubuh ini lara
Saat cinta ada di hati
Saat rindu menyelimuti
Saat mata tak kuasa lagi
Saat jiwa membuncah sepi
Semua filantropi mencuatkan nurani
Deraian sepi malam
yang setia menemani kegundahanku
Aku tak tau
kapan ku menghampirimu lagi
Tak dinginkan namun terpahat
Tak diharapkan tapi tertanam
Tak dihiraukan semakin dalam
Tak disiram malah merambat
Mulut ini hanya tersenyum bodoh
Mata ini hanya menatap bodoh
Tangan ini hanya memohon bodoh
Kaki ini hanya melangkah bodoh
Senja malam …
Berikan lagi kekuatan
Agar ku selalu dalam ketenangan
Karena mu malam …
kukenali kau
jauh sebelum kau lihat diriku
seperti dirimu
dalam diam
dalam hening
dalam rasa
dalam batas
bahagia
diatas sirna
diatas senja
diatas luka
diatas batas memelas kerinduan
akan rumah surga
yang jadi keheningan …
untukmu malam !!!
Filantropi Hati
Dik …
Belahan rasa ini sangat pelan
Hingga menjelang cahaya malam
Ku masih tenggelam
Dalam perkamen suci
Berkelopak salju yang berdaun batu
Dan genggaman kita
Menciptakan sayap sufistik
Dalam taman elergi kian terbuka,
Menahan nafas
Seribu bahasa, dalam gulita
Kehadiranmu memberiku ketulusan cinta
Pabila rasamu lahir disuatu hari
Terimalah,
Atau hindari ia
Di bebukitan kelam penuh kegetiran
Licin, dan
Riskan.
Agar tidak timbul senja suram.
Dik …
Sembunyikan kisahku,
Dalam alunan hidupmu
Ukiran jiwamu telah aku titipkan diatas filantropi ini
Hilangkan ragu yang mengikuti angin
Bulan Akhir ini,
Alunan sonatamu aku cari.
Getir
Merangkak sehabis malam
Menaruh harap di tanganku yang risau
Dan percintaan ….
Diatas bumi aku terasingkan
Pucuk hijau merapat kedinginan
Melenguk lembu-lembu terjaga
Berdesir …..
Sungai darah suci
Debaran selaksa rintih di kahyangan
Penuh merjam keheningan
Dari lampu-lampu pejaman mata-mataku
Kasih,…
betapa sepi dan sendirinya
Diriku lari ke selatan di tikungan
Asap hidung dan gigi gemeretakan
Kasih, rasa habis diterka sukma
Menerawang kegelapan malam ini
Menembus nurani dimensi waktu
Saat getar-getar nada berirama dihari sunyiku
Kelabu datang menjemput curahan embun pagi
Sambil terdiam, perlahan ku sadar ….
Rintik salju pun berguguran
Dengan hentakan nada
Kata teroleh dalam belahan jiwa
Serasa hening …..
Ruh pun dipanggil …..
Tubuh menggigil tanpa teman,
Tanpa pengertian curahan kalbu
Aku tersudut dalam rasaku
Kegetiran malam menghanyut didadaku
Ku takkan bisa berganti hati darimu
Jangan tanyakan kenapa …?
Tetap ku jadikan kau belahan rinduku
Hanyut …..
T e r h a n y u t …..
Mendekap belaian bayu
Dihempasan gelombang lentera menyapaku
Jemariku tak sanggup merekah
Hati berucap ….
Teriring angin menjelang
Megacakrawala kau datang
Merubah hariku, tiada gelap
Kian mengalahkan detak jantungku
Menyentuh, pancang-pancang nuraniku,
Walau lingkaranku terbelenggu dimensi jiwa
Yang kan membentangkan senja hariku tanpa musim
Dimana cinta itu terbentuk???
Berawal,
Sampai kelaut?
Ataukah masih ada dicadas dan bebatuan?
Titik itupun akan hilang
Terlepas bahasa cinta
Menengok balik-balik untaian rasa.
Sembunyi ….
Tiada berarti,
.…
..
Malaikat cinta menghadirkan perasaan diantara kita
Diantara nada-nada yang diam membisu
Namun hangat penuh seluruh
Berjuta pijar lentera hati kita
Membawa ruang cinta
Yang kau sematkan dijiwaku
Keakuan
Kasih ……
Katakan ini hanya gundah
Yang merekah di jari-jari diamku
Berniaga dalam hayal
Kehidupan cinta ku
Sejenak sebelum senja
Ku hadirkan sebongkah salju membius dunia waktu
Yang menusuk pisaunya dalam cercahan dimensiku
Tak bermuara aliran deras ini !!!
Sejarah pikiran pun tak lekas layu!
Meninggalkan kisahmu?
Aku tak percaya,
Cinta ini begitu kuat
Hingga satu demi satu tetap terkumpulkan
Bayangmu,
Kasih
Juga
Rindu …..
Kasih, pahamilah ….
Perempuan hadir atas nama cinta
Haru biru langit senja karena cinta
Digenangi racun jingga di sudutmu
Seperti surya membukakan kekalahan kalbu,
Yang berdinding suram penuh rintihan,
Melukis cinta di atas samudra terbelah!
Tiada pernah terdengar
Cumbu rindu uraian kalbu,
Terus mengikis angan-angan tertempa,
Tertunduk hilang
Tertinggal,
Dalam Klise …..
Kasih …
Getar Hati
Kesejukanmu ……
Mengarungi hidupku,
Meniti kaki kecil berkepak
Bersemi, seperti titik embun membasahi dedaunan
Hingga ia perlahan tumbuh
Membuat harapan baru ….
Di relung jiwaku ….
Terpatah-patah memahami kata
Yang mencari makna dibalik langkah senja.
Dan ….
Tatkala aku mencintaimu,
Ku temukan nada cinta suci dipelupuk hatimu
Perlahan bergerak …
Tak terhenti melintasi nada hujan
Dimana dunia terlihat indah
Dalam rauf kedamaian
Untuk mewarnai hatiku
Hariku terasa dekat denganmu …
Aku ..
Kau beri rasa serpihan kerinduan
Belum Teramat lama jiwa ini mengenalmu, menegur mata hatimu,
Hanya sungguh,
kau telah sematkan bisik cinta yang telah sirna dihidupku,
Tak goyah dengan ketidak-pastian
Tiada jasad setetes ragu dalam nuraniku
Dinda…
Kini telah ku tenggelamkan hatiku
Di nuranimu
kau berikan ruang ku berdiri di jiwamu
Sinari aku bagai cahya mentari
Aku berjanji kan beri arti dihidupmu
Tetaplah di sini menemaniku
Menemani langkah senjaku
Kau sematkanku dalam dentingan
Jiwa nurani kalbuku ……..
Hening
Didalam hembusan nada hatiku bergemuruh
Merasakan kian warna dihariku
Keluh kesah hanya diam membiru
Di pertigaan ku bertajuk rindu
Malam kian larut
Menenggelamkan kisah separuh rasaku
menjelma dalam dada
Kebisuan …..
Tanpa Kata …….
Hening …
larut ku titip di peremajaan jiwaku
Disana;lah aku berdiri setengah tiang tanpa henti
Tiada angin yang maraba
Tiada nada yang merasa
Aku tumbuh dalam hening …..
Hening yang bernafaskan kalbu nurani hatiku
Ingin ku gapai secercak sunyi di hidupku
Namun ia hanya terus membelenggu jiwaku
Hingga …..
Hati katakan pada jiwa yang menggigil,
Seandainya sepi porak poranda
Belenggu hitam tenggelam
Dimana cinta bernama diatas dunia
Kadang ia bersembunyi dibalik langkah
Gelisah ….
Terpatah-patah memahami tiap bait senja
Dalam sajak puisi, nada asmara
Rindu …..
Ia melayang terhempas lagi
Makna rintihpun bergema …
Berkali-kali
Seandainya ia tahu !!!
Kasih …..
Kau tak pernah cari arti sesungguhnya
Kala adalah waktu risau
Bertepi kian tersusuri awan tebal
Teriring angin gelappun malam menjelang
Kau tetap biarkan aku dalam kehampaan
Biarkan ku terdiam dihembusan kedinginan
Tak menyentuh …
Dan berucap
Kurengkuh jiwamu dijiwaku
Hingga ruang hitam dan ketakutan terbuang
Kugauli nafsuku dengan selimut kafan
Kasih ….
Ku mati akan cintamu
For you
Dalam nada cinta
Matahari jatuh miring senja
Menuju satu titik hilang
Menengok sela-sela pelita cristal
Merengkuh senandung sikap
Saling menopang tanya
Dalam sederhana rasa
Sentuhan halus jiwa ini, menari landai
Pelangiku …
Dilemakah ini?
Veronika jiwa …
Kau adalah harapan kegundahan ini,
Sekejap dan hanya sekejap
Jantung berdetak kencang mengalahkan detakan waktu
Kau telanjangi jiwaku
Tanpa sisakan, ketulusan hati
Tempuhi rute tajam
Dengan likuan lenyap dimensi malam
Clasical kasih !!!
Kau merasakan ini,
Syair
Hitam
Jentik sudut lidah
Jarum jam berdetak
Aku
… kita …
Janggal
Jika ini tiada!
Cermin
Air
Hujan
Manis
Sunyi
Sembunyikan rasa ini,
Kasih
Kau jiwa bidadari
Setiap lisan,
Hingga
Kau tinggalkan ku dalam dentingan
Jiwa nurani kalbu.
Jiwaku
Bersama Matahari
Sesungguhnya perjalanan ini baru dimulai
Mungkin …?
Meniupkan kharisma uraian kearifan cinta
Diantara samudra terbelah
Bersuara bagai kian meracau
Hening sesaat terpatah tak bertepi
Menuai keperawanan malam
Dalam secarcik kertas putih
Kisah ku …
Apakah ku harus memulai?
Stigma cinta pernah berbekas
Merengkuh jiwa sapaan bathin
Lewat gurat penamu tiada lelap jejak
Meski alunan sonata ketukan nadanya
Memainkan hampa ….
Kau selalu dihatiku …
Di hati ini
Penguasa gulita cahaya jiwa
Peganglah Satu
Puisi cintaku retas rona bianglala
Vertikal terpaku!
Menatap jam berdetak
Memikirkanmu
Peganglah rasaku
Perjalanan liar cinta ini memuncak
Sampai disini….
Saat penaku membeku
Ku tau …
Tak kan pernah ada lorong jiwa harapan buatku
Putih cintamu buat dirinya
Tak begitu luas sisi burukku
Demi sebuah cinta dan rasa
Ucapkanlah, ..!!!
Kau tak pernah menyayangiku!!!
lelah
Ku tirani berkembang dilayar gelap
Penuh merjam detik-detik keheningan
Saat terlabuh ……
Ketika suram datang menghadang
Keluguanmu curahan hatiku
Pada angin ku katakan tak kan pulang
Hehhhmh…
Tiada hidup bergejolak dalam dimensi
Tiada harap tanpa Tanya dalam sunyi
Dimensi cinta, tak pernah tiada ….
Dimensi rasa, hanya sukma yang menjaga
Dilema aku terbawa angin lalu
Yang menghanyutkan seluruh tempaan nada silam
Serasa bergetar alam rincik menjelma
Di kesepian malam hutan belantara
ku buang rasaku
Rasa….
Yang terlalu besar ku berikan Padamu
Dengan tampikan kemelut kusuh
kau jawab cintaku
Demi langit yang mendengarku
Ku tak kan mengenal hatimu
Lagi …
Dan ….
Sekarang ….
Lagi …..
…….
….
…
..
Relung Hati
Andai Semua kan berubah
Semua hilang tak berarah
Akan tujuan suara hati dalam nurani
Pengertian yang engkau teteskan di kemilau jiwaku
Memberi Rasa yang hanya lepas berirama
Tak tentu apa dan mengapa
Hatiku hilang di gadis Rasa
Tak ingin ku lalui angin tanpa batang
Daun-daun yang berguguran
Hanya tinggal ranting bercabang
Disini ……….
Aku tersungkur dalam rasa ku …..
Menehan uraian kata yang tak bermakna
Aku satu dalam dirimu
Aku tinggal dilubuk hatimu
Aku nada di belahan jiwamu
Aku hilang untukmu
Jikallau kemarau kasih tak pernah berujung …..
Di relung hatimu …
Miss U …….
Kala hembusan nafasmu menusuk tulangku..
Belaian indah matamu sejukkan hatiku..
Saat telingaku haus akan suaramu
Kau Sentuh Hasratku Melalui Tatapmu..
Terpaku jiwaku saat memandang
Terbujur Kaku Tubuhku Saat Kau Sentuh..
Melayang terbayang jiwa entah kemana..
Saat rasakan indahnya bersama dirimu..
Lambaian jiwamu ..
Hantui setiap hembusan nafasku ..
Iringi setiap langkah langkahku ..
Dan memacu setiap semangatku ..
Jiwa terasa sesak tanpa hadirnya kau di sisiku ..
Jantung terasa pekat tanpa tatapanmu..
Dimanakah kau berada malam ini..
Cinta ………
Saat Jiwaku Membutuhkanmu..
Kemanakah engkau pergi ....
Saat ragaku mencarimu …..
Aku telah melolong di gelap gulita….
Berjalan memakai baju-baju lusuh membalut
Tubuh berpeluh ………
dalam teriakan yang kering
Mataku dibentang jarum jam
yang sejak senja memakan malam
Jangkrik tak kunjung henti menyanyikan nada tunggal
mengajakku berjaga menemanimu
Engkau sendiri bulat digantung gelap
menatapku dan menyinarkan kata
“esok aku tak sesempurna malam ini
- kecuali hatiku untukmu”.
Putri,
Jalan Basah sisa hujan
Menuju rawa, sabana hingga belantara
Meliuk pepohonan yang tumbuh rintai bergelantungan
Bahasa berkata bunyi-bunyi suara
Memburu angin layu tanpa mengendap aspal jalan
Yang melekat diatas sepatu jejak sapuan angan
Lihatlah dari awan puisi hitam sayap-sayap cinta terbang
Menjadi musim baru
Dalam belahan semesta jiwaku
Aku yang kaku,
Seakan bersirat kau hadir di hadapku
Mungkinkah matamu menyejukkan jiwa ini?
Karena aroma hatimu telah tercium dirasaku
Menengoklah sedikit!
Apa yang kau sembunyikan dibalik senyummu?
Dibalik keindahan yang tercipta dari putri melatiku
Satu bayang menari landai
Berisi untaian kata-kata indah
Dibersit matamu
Dan ku menunggu
Dan,
Cinta ini harus ku selami
Seiring lirihnya cerita cintaku
Gelisah membuka lembaran sirna
Menyimpan benih kenangan syahdu penuh pilu
Yang bersenandung lewat hati
Kini,
Ku titipkan cinta disenyum ramahmu
Walau ku kan menegur bathinku
Siapakah dirimu?
Yang berusaha mewarnai hatiku
Putri salju
ku ..
Satu
Ketika rumpun itu tumbuh
Serupa desir yang mengakar
Setiap nada yang terhembus adalah kata
Angan, rintik, gerimis dan emosi
Bersatu dalam jubah bertautan
Jiwa ini senyap
Maka diam saja
Biarkan ini terbawa semua
Dalam hening ku malam nanti
Yang ditemani angin malam
menusuk ulu hatiku
Kusadari betapa berartinya
Dirimu bagiku
Kasih…
kau selalu ada
Dalam canda, tawa, dan air mata
Selalu hadir
Diseluruh nafas hidupku
Kasih ..
Kau telah membuatku terbuai mesra
Dalam indahnya kemilau untaian kata cinta
Kau seperti lilin kecil
Penerang dalam pekatnya malam gulita
Kau seperti bintang timur
Pemandu bagi pelaut yang kehilangan arah
Kaulah insan penawat rinduku
Kasih ……….
Ku ingin kau hadir bersamaku
Menjemput mahligai cinta kita berdua
Mengarungi bahtera hidup ini
Dalam makna cinta
Dari dua insan yang berbeda
Karena kita adalah Satu
Dalam jiwa
Senja
Matahari jatuh senja hari
Bersama dedaunan dan dingin warna langit
Jalan basah …
Sisa hujan yang terlalu riskan
Begitu sepi bagai sebutir kuarsa
Di sabtu memorindam,
Ku tak pernah Tanya,
Kerlip-kerlip wajahmu penuh pesona
Bukan untukku,
Tapi untuknya …
Setetes ragu menghanyut dijiwaku
Akankah hatimu mengerti akanku
Yang menghantarkan malam tanpa bintang
Diantara puing-puing krikil tajam
Sebuah keberanian melukai hati ini
Akankah kau lakukan … ?
Dinda ….
Air matamu begitu bening,
Menyuburkan tiap rasa yang bertajuk dihatimu
Apakah kau masih tahu ?
Ku begitu menyayangimu,
Walau ku tahu,
Mahkota cintaku takkan bisa menjadi
Bongkahan harapanku
Tapi biarlah …
Rindu ini amat terasa
Jikapun hanya lewat bathinku
Dinda ….
Titipkan senyumku lewat benak dan hatimu
Dan aku kan menangis …
Dalam temperatur saling berharap
Stigmapun hadir …
Lalu berlari …
……….
…….
Berlari ….
Dan aku …..
Berteriak …. !!!
Senja …
Tolong sampaikan ini
Waktumu …..
Cinta ……….
Hari-hariku …
terlewat dengan tetesan jiwa terlabuhkan
Sambil terdiam diatas felonama sukma
Meniadakan kegetiran rasa di ujung nista
Daunpun gugur satu persatu
Mengiringi kepergianmu
Cinta …..
Yang berpaut dalam permainan takdir,
Bersemayam rindu dibalik langkahku
Bergetar suara alam mendekapku
Melepas haru biru prahara kesaksian rasa
Jiwaku hening, terpatahkan paruh hitam
Dari tepi kesalahanku,
Untaian maafpun tak sampai
Cinta
Bergerak berpijak!
Dalam hembusan tiraian sendu yang menggeluti tubuhku
Semesta ungu menghiasi nada rintihku
Aku
Meredup tanpa cahaya bernyala
Tiap-tiap nafas ku rasakan sesak menyumpal mulutku
Merasakan pahitnya ketiadaanmu,
Cinta
Tubuhku berkeping menjajahi pekatnya malam
Menjelang kedinginan yang tercermin dalam lumuran detik
Saling menopang tanya
Akankah kau hadir dalam dimensiku …….
Ataukah ku tinggal dalam kebisuan ini,
Meniadakan getar rasa bergemuruh menerjang senja
Suryapun tak sanggup menjawab
Kemana kau pergi cinta …..
Waktumu ….
Tiada arti bagi kau sendiri
Hilanglah dari dunia sepi
Cinta …
Pulanglah ….
Dan rasakan …
Belaian kasih sayang ini tertulis untukmu
Di waktumu
Cinta
Waktu yang telah akan usai, dijalan hidupku.





